Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Sukses. Tampilkan semua postingan

Begini Cara WhatsApp Mendapatkan Keuntungan dari Pemakainya

Siapa sih yang tidak tahu WhatssApp, aplikasi pesan instan saingan BBM Messenger yang mulai membunuh SMS ini adalah salah satu perusahaan besar milik Mark Zuckerberg selain FB dan Instagram. WA dibeli Mark dengan biaya Rp 233 triliun.


Hingga saat ini WA masih tetap setia dengan prinsip awal mereka untuk membuat sebuah chat instan yang tidak dibebani dengan iklan dan berbagai hal komersil. Namun tentu saja hanya orang bodoh yang mau melayani miliaran orang secara cuma-cuma, WA bukan milik orang bodoh!

Jika tidak meminta bayaran dari pemakainya dan tidak memasang iklan, lalu bagaimana WA bisa mendapatkan keuntungan?

Sebelumnya pengguna harus membayar biaya perpanjangan WA dengan biaya beberapa puluh ribu saja, namun akhirnya WA menghentikan praktek itu dan sedang mencoba cara lain untuk bisa mendapatkan keuntungan dari penggunanya.

Belum lama ini terdengar kabar yang menyatakan bahwa WA akan memberikan layanan khusus untuk bisnis dimana akun bisnis akan diberikan tanda hijau verifikasi seperti yang ada pada FB dan twitter. Meski belum pasti namun inilah cara yang dipercaya akan dipakai WA untuk mendapatkan untung setelah bertahun-tahun melayani pemakainya dengan gratis.

Jadi dengan adanya sistem bisnis ini nantinya pemakai akun bisnis akan diberkan layanan khusus agar bisa berdikusi dan melayani pelangganya. Seperti akun twitter dan fanpage khusus yang biasa digunakan akun bisnis untuk melayani pelanggannya.

Jika sistem bisnis ini jadi dan sukses, sepertinya akan banyak akun bisnis yang menggunakan layanan ini agar bisa berhubungan langsung dengan pelanggannya. Namun jika tidak menguntungkan juga, bukan tidak mungkin nantinya WA akan dipenuhi dengan iklan seperti layanan pesan online lainnya.

Pesawat Sukhoi Rusia Dibarter Dengan Produk Perkebunan RI, Tadinya Mau Tuker Kerupuk

Belum lama ini saya melihat sebuah berita yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia melalui Menteri Perdagangan dan Menteri Pertahanan mau menawarkan kerupuk asli Indonesia untuk biaya pembelian 11 buah pesawat Sukhoi Su-35. Entah benar atau tidaknya tentu saja itu adalah berita yang cukup menggelitik karena harga pesawat yang selangit dengan pembuatan yang rumit kok mau ditukar dengan kerupuk.


Indonesia memang langganan membeli pesawat Sukhoi dari Rusia sebagai bentuk perlengkapan militer negara, harganya memang lumayan mahal namun sesuai dengan kualitas pesawat tempur yang super canggih ini.

Nah dikutip dari detik.com, akhirnya pemerintah melalui Menhan dan Mendag melakukan suatu negoisasi dengan pihak Rusia. Mereka membeli pesawat Sukhoi ini dengan pembayaran berupa barter barang hasil perkebunan dari Indonesia.

Komoditas perkebunan beserta yang ditawarkan yakni karet, minyak sawit atau CPO, mesin, kopi, kakao, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furniture, kopra, plastik, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya.

Dengan barter ini tentu saja cukup menguntungkan Indonesia dimana kita bisa mendapatkan pesawat canggih yang ditukar dengan barang dari perkebunan. Memang Indonesia adalah negeri yang sangat subur dan menghasilkan banyak komoditi perkebunan, sedangkan di Rusia yang sering diselimuti salju memang susah untuk perkebunan.

Kerjasama Indonesia dan Rusia memang sudah terjalin lama, beberapa perlengkapan tempur militer di Indonesia berasal dari Rusia. Kerjasama perdagangan antara dua negara ini juga cukup menguntungkan Indonesia.

Pemerintah hebat bukan? Pesawat canggih dibarter dengan hasil bumi :D

Mengeluh dengan Pekerjaan Kamu? Baca Perjuangan Pengrajin Gedek Ini

Saya ini paling jengkel kalau melihat dan mendengar keluhan orang yang mengeluhkan pekerjaan mereka yang berat, gajinya yang kecil, atasan yang semena-mena, rekan kerja yang tidak bisa diajak kerja sama, persaingan bisnis yang ketat, dan lain sebagainya. Boleh saja mengeluh, tapi keluhkan kepada Tuhan, jangan di share di sosmed atau koar-koar kesana kemari, emangnya situ orang penting?!

ilustrasi proses anyaman gedek via nusabali.com

Bakalan malu kalian yang masih suka mengeluh dengan hidup ini jika kalian mengetahui perjuangan pengrajin anyaman gedek bambu. Kenapa saya sok tahu dengan kehidupan pengrajin gede ini? Jawabannya di bawah sendiri.

Pagi buta sekitar jam 5 ketika hari masih gelap kakek tua yang katanya juga pernah merasakan jaman penjajahan ini sudah siap berangkat untuk menjual anyaman gedeknya yang digulung besar. Saat berangkat, setidaknya dia membawa hingga 5 lembar anyaman bambu ini untuk dijual, kemana?

Dia jalan kaki dari tempat yang jauh, mungkin satu hari dia bisa jalan kaki hingga puluhan kilometer. Jika ada orang bawa mobil yang berbaik hati mengajaknya, itu adalah sebuah bantuan yang sangat dia harapkan, namun dia tak mau menghentikan mobil yang lewat untuk meminta bantuan, dia sadar diri membawa anyaman gedek yang besar dan merepotkan orang lain.

Seharian menjual anyaman gedek, tak jarang tidak laku sama sekali, kehujanan, kepanasan, kelaparan, mau beli makan tidak punya uang karena dagangannya belum laku. Terkadang kakek tua ini duduk di pinggir jalan, tak jarang ada orang yang kasihan dan memberinya makanan dan minuman.

Sang kakek sangat bahagia jika gedeknya laku, apalagi kalau diborong oleh pembeli misalnya mereka yang membutuhkan banyak anyaman untuk membangun rumah semi permanen atau sekedar penutup proyek bangunan.

Beberapa kali dia berhasil menjual anyaman itu, namun yang membeli bukan karena butuh, mereka hanya kasihan melihat orang tua yang memikul anyaman bambu itu.

Sore hari dia pulang dengan senyuman, membawa uang hasil penjualan dagangan dari pagi. Harganya tak seberapa, jika dia membawa 5 lembar anyaman berarti dia hanya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 100.000, 00 saja. Namun rejeki itu sangat dia syukuri karena jika sampai di rumah maka istrinya tidak akan cerewet, anaknya bisa makan bisa jajan dan bisa disisakan untuk menabung.

Jika dagangan sudah laku semua, esok harinya dia berangkat ke kebun untuk menebang bambu sebagai bahan utama membuat anyaman gedek. Dari kebun yang jaraknya puluhan KM, dia memikul bambu dengan jumlah yang banyak, dibawa ke rumah, dibelah, dijemur, dan dibuat anyaman gedek. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya 2-3 hari baru bisa dianyam.

Lama kelamaan orang enggan menggunakan gedek untuk membangun rumah, mereka ingin bangun rumah dengan tembok bata, gedek sudah mulai tidak diminati lagi. Kakek ini bahkan sempat tidak bisa bekerja selama beberapa lama karena dagangan yang dia bawa tak kunjung laku, dia hanya mengandalkan uang dari hasil di kebun untuk menyambung hidup.

Meski hasilnya tak seberapa, proses pembuatannya susah, kurang peminat, namun sang kakek tetap menjalankan profesi ini hingga akhir hayatnya. Dia pernah berkata "saya orang bodo, gak bisa kerja yang lain, cuma bisa bikin gedek aja, ya mau gak mau saya lakuin".

Kalau kalian menganggap pekerjaan kakek ini gagal dan tidak maksimal, anda salah besar. Buktinya kakek ini bisa menghidupi 4 anaknya hingga mereka semua bisa membangun keluarganya sendiri. Rejeki itu dari Allah SWT, terserah Allah mau memberikan lewat jalan apa saja, bisa jadi gaji kita kecil tapi rejeki besar datang dari jalan yang lain. Seperti kakek ini, meski jualan gedek hasilnya kecil, dengan hidup sederhana toh dia dan keluarganya tak harus mengemis di jalanan!

Kenapa saya bisa sok tahu dengan kakek penjual gedek ini? Karena dia adalah kakek saya sendiri!

Akhirnya Indonesia Kuasai Saham Mayoritas Freeport Sebesar 51%

Berita bahagia ini memang hanya sebuah berita saja karena saya yakin kebanyakan dari kita tidak pernah datang ke tanah Papua, kita tidak tahu dimana freeport berada, siapa yang bekerja di sana, bagaimana pekerjaaanya, apa saja yang dihasilkan, dan berbagai hal lain yang hanya diketahui melalui informasi yang tersebar di internet saja.


Yah, berita bahagia bagi seluruh rakyat Indonesia yang membuat kita senang dan bangga kepada pemerintah RI adalah pencaplokan saham Freeport yang sebelumnya hanya dimiliki oleh pemerintah RI sebesar 9,36% saja dan kini bisa dibeli dengan saham mayoritas sebesar 51%.

Langkah pemerintah untuk mengekang Freeport selama beberapa waktu ini ternyata menghasilkan sebuah keputusan yang menakjubka dimana Freeport akhirnya menyerah dan menerima keinginan pemerintah RI selaku pemilik sah pulau Papua dengan kekayaannya.

Harga saham Freeport sekitar Rp 211 triliun, jika dibeli oleh RI 51% berarti pemerintah wajib mengeluarkan dana hingga Rp 107 triliun. Untuk menanggulangi masalah itu, RI akan membeli Freeport dengan sistem replacement cost dimana pemerintah hanya perlu membayar sekitar Rp 40 triliun saja.

Meski tidak terlalu ikhlas dengan keputusan ini, nyatanya Freeport harus patuh pada pemerintah RI jika ingin terus menambang kekayaan tanah Papua. Mereka bahkan sebelumnya mengungkit-ungkit uang setoran dan bagi hasil ke pemerintah sebesar Rp 214 triliun.

Perusahaan tambang terbesar di Indonesia ini akhirnya menyerah dengan pemerintah dan menjual saham mayoritasnya, kini pekerjaan berat menanti pemerintah untuk bisa mengatur dengan baik agar penerimaan negara meningkat dengan memaksimalkan kekayaan alam di tanah Papua.

Sudah hampir 50 tahun setelah lengsernya presiden Soekarno dan kala presiden Soeharto memberikan izin pertambangan ke freeport, rakyat Indonesia khususnya di papua tidak bisa merasakan manfaat yang maksimal dari kekayaan alam negaranya sendiri. Kini kita harus bangkit, manfaatkan kekayaan alam, sumber daya manusia, bangkit menjadi negara yang maju.

Suksesnya Javara Jualan Gula Jawa Ke Luar Negeri, Omsetnya Rp 30-40 Miliar Gaes!

Helianti Hilman adalah seorang wanita yang menjadi pemimpin PT Kampung Kearifan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Javara. Berbeda dengan perusahaan kuliner lainnya yang menjual produk makanan modern, Javara malah memproduksi makanan tradisional buatan petani lokal dari pedesaan.


Meski hanya makanan tradisional buatan warga lokal, toh nyatanya mereka bisa mengimport makanan itu hingga ke luar negeri. Menurut informasi yang dilansir dari finance.detik.com, Helianti bersama Javara berhasil mengimport lebih dari 720 produk ke 21 negara dari 4 benua, hanya Afrika yang belum mereka jamah dan tahun depan sudah dipersiapkan untuk bisa tembus ke Afrika.

Produk yang dijual berasal dari para petani lokal, dibuat dari hasil pertanian di daerah terpencil, kemudian dikemas dengan standarisasi yang sesuai dengan aturan negara tujuan, harganya naik berkali lipat ketimbang harga di pasar lokal, ini adalah bisnis yang super keren!

Beberapa produk yang banyak diminati pasar luar negeri diantaranya adalah olahan dari kelapa seperti gula, cemilan, dll. Selain itu ada pula produk lain seperti rempah-rempah, madu, mie ubi, gula jawa, garam, dan lain sebagainya.

Salah satu produk yang saya perhatikan adalah gula jawa yang ternyata bisa diimport ke luar negeri dengan beberapa perubahan kecil pada kemasannya. Konon gula jawa ini sangat disukai oleh produsen coklat di luar negeri dan mereka adalah langganan tetap dari Javara ini.

Helianti terbilang sebagai pengusaha yang sukses dengan membantu petani lokal memasarkan produknya ke luar negeri, dia juga bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar karena harga produk lokal ini bisa berlipat di luar negeri.

Omset yang didapat Javara tiap tahunnya mencapai Rp 30-40 miliar, bisa kalian bayangkan betapa besarnya perusahaan makanan tradisional ini? Kalau keuntungannya bisa 20-40%, bayangin aja deh keuntungan mereka setiap tahun. Apalagi mereka bisa membantu para petani lokal untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat dari penjualan ke luar negeri.

Rahasia Javara bisa memasarkan produk tradisional ke luar negeri adalah menajemen produksi, inovasi, standarisasi, sertifikasi, dan aspek lainnya yang mendukung produk mereka lebih profesional dan bisa diterima dengan baik di pasar luar negeri.

Sebelumnya saya sudah membahas tentang juragan jengkol yang bisa import produk ke luar negeri, sekarang Javara yang mengimport makanan tradisional ke luar negeri, semoga ke depannya pembaca blog ini yang bisa memberikan ceritanya kala sudah sukses berbisnis produk di luar negeri, aamiin.