Tampilkan postingan dengan label Usaha Di Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usaha Di Desa. Tampilkan semua postingan

Mengeluh dengan Pekerjaan Kamu? Baca Perjuangan Pengrajin Gedek Ini

Saya ini paling jengkel kalau melihat dan mendengar keluhan orang yang mengeluhkan pekerjaan mereka yang berat, gajinya yang kecil, atasan yang semena-mena, rekan kerja yang tidak bisa diajak kerja sama, persaingan bisnis yang ketat, dan lain sebagainya. Boleh saja mengeluh, tapi keluhkan kepada Tuhan, jangan di share di sosmed atau koar-koar kesana kemari, emangnya situ orang penting?!

ilustrasi proses anyaman gedek via nusabali.com

Bakalan malu kalian yang masih suka mengeluh dengan hidup ini jika kalian mengetahui perjuangan pengrajin anyaman gedek bambu. Kenapa saya sok tahu dengan kehidupan pengrajin gede ini? Jawabannya di bawah sendiri.

Pagi buta sekitar jam 5 ketika hari masih gelap kakek tua yang katanya juga pernah merasakan jaman penjajahan ini sudah siap berangkat untuk menjual anyaman gedeknya yang digulung besar. Saat berangkat, setidaknya dia membawa hingga 5 lembar anyaman bambu ini untuk dijual, kemana?

Dia jalan kaki dari tempat yang jauh, mungkin satu hari dia bisa jalan kaki hingga puluhan kilometer. Jika ada orang bawa mobil yang berbaik hati mengajaknya, itu adalah sebuah bantuan yang sangat dia harapkan, namun dia tak mau menghentikan mobil yang lewat untuk meminta bantuan, dia sadar diri membawa anyaman gedek yang besar dan merepotkan orang lain.

Seharian menjual anyaman gedek, tak jarang tidak laku sama sekali, kehujanan, kepanasan, kelaparan, mau beli makan tidak punya uang karena dagangannya belum laku. Terkadang kakek tua ini duduk di pinggir jalan, tak jarang ada orang yang kasihan dan memberinya makanan dan minuman.

Sang kakek sangat bahagia jika gedeknya laku, apalagi kalau diborong oleh pembeli misalnya mereka yang membutuhkan banyak anyaman untuk membangun rumah semi permanen atau sekedar penutup proyek bangunan.

Beberapa kali dia berhasil menjual anyaman itu, namun yang membeli bukan karena butuh, mereka hanya kasihan melihat orang tua yang memikul anyaman bambu itu.

Sore hari dia pulang dengan senyuman, membawa uang hasil penjualan dagangan dari pagi. Harganya tak seberapa, jika dia membawa 5 lembar anyaman berarti dia hanya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 100.000, 00 saja. Namun rejeki itu sangat dia syukuri karena jika sampai di rumah maka istrinya tidak akan cerewet, anaknya bisa makan bisa jajan dan bisa disisakan untuk menabung.

Jika dagangan sudah laku semua, esok harinya dia berangkat ke kebun untuk menebang bambu sebagai bahan utama membuat anyaman gedek. Dari kebun yang jaraknya puluhan KM, dia memikul bambu dengan jumlah yang banyak, dibawa ke rumah, dibelah, dijemur, dan dibuat anyaman gedek. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya 2-3 hari baru bisa dianyam.

Lama kelamaan orang enggan menggunakan gedek untuk membangun rumah, mereka ingin bangun rumah dengan tembok bata, gedek sudah mulai tidak diminati lagi. Kakek ini bahkan sempat tidak bisa bekerja selama beberapa lama karena dagangan yang dia bawa tak kunjung laku, dia hanya mengandalkan uang dari hasil di kebun untuk menyambung hidup.

Meski hasilnya tak seberapa, proses pembuatannya susah, kurang peminat, namun sang kakek tetap menjalankan profesi ini hingga akhir hayatnya. Dia pernah berkata "saya orang bodo, gak bisa kerja yang lain, cuma bisa bikin gedek aja, ya mau gak mau saya lakuin".

Kalau kalian menganggap pekerjaan kakek ini gagal dan tidak maksimal, anda salah besar. Buktinya kakek ini bisa menghidupi 4 anaknya hingga mereka semua bisa membangun keluarganya sendiri. Rejeki itu dari Allah SWT, terserah Allah mau memberikan lewat jalan apa saja, bisa jadi gaji kita kecil tapi rejeki besar datang dari jalan yang lain. Seperti kakek ini, meski jualan gedek hasilnya kecil, dengan hidup sederhana toh dia dan keluarganya tak harus mengemis di jalanan!

Kenapa saya bisa sok tahu dengan kakek penjual gedek ini? Karena dia adalah kakek saya sendiri!

Suksesnya Javara Jualan Gula Jawa Ke Luar Negeri, Omsetnya Rp 30-40 Miliar Gaes!

Helianti Hilman adalah seorang wanita yang menjadi pemimpin PT Kampung Kearifan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Javara. Berbeda dengan perusahaan kuliner lainnya yang menjual produk makanan modern, Javara malah memproduksi makanan tradisional buatan petani lokal dari pedesaan.


Meski hanya makanan tradisional buatan warga lokal, toh nyatanya mereka bisa mengimport makanan itu hingga ke luar negeri. Menurut informasi yang dilansir dari finance.detik.com, Helianti bersama Javara berhasil mengimport lebih dari 720 produk ke 21 negara dari 4 benua, hanya Afrika yang belum mereka jamah dan tahun depan sudah dipersiapkan untuk bisa tembus ke Afrika.

Produk yang dijual berasal dari para petani lokal, dibuat dari hasil pertanian di daerah terpencil, kemudian dikemas dengan standarisasi yang sesuai dengan aturan negara tujuan, harganya naik berkali lipat ketimbang harga di pasar lokal, ini adalah bisnis yang super keren!

Beberapa produk yang banyak diminati pasar luar negeri diantaranya adalah olahan dari kelapa seperti gula, cemilan, dll. Selain itu ada pula produk lain seperti rempah-rempah, madu, mie ubi, gula jawa, garam, dan lain sebagainya.

Salah satu produk yang saya perhatikan adalah gula jawa yang ternyata bisa diimport ke luar negeri dengan beberapa perubahan kecil pada kemasannya. Konon gula jawa ini sangat disukai oleh produsen coklat di luar negeri dan mereka adalah langganan tetap dari Javara ini.

Helianti terbilang sebagai pengusaha yang sukses dengan membantu petani lokal memasarkan produknya ke luar negeri, dia juga bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar karena harga produk lokal ini bisa berlipat di luar negeri.

Omset yang didapat Javara tiap tahunnya mencapai Rp 30-40 miliar, bisa kalian bayangkan betapa besarnya perusahaan makanan tradisional ini? Kalau keuntungannya bisa 20-40%, bayangin aja deh keuntungan mereka setiap tahun. Apalagi mereka bisa membantu para petani lokal untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat dari penjualan ke luar negeri.

Rahasia Javara bisa memasarkan produk tradisional ke luar negeri adalah menajemen produksi, inovasi, standarisasi, sertifikasi, dan aspek lainnya yang mendukung produk mereka lebih profesional dan bisa diterima dengan baik di pasar luar negeri.

Sebelumnya saya sudah membahas tentang juragan jengkol yang bisa import produk ke luar negeri, sekarang Javara yang mengimport makanan tradisional ke luar negeri, semoga ke depannya pembaca blog ini yang bisa memberikan ceritanya kala sudah sukses berbisnis produk di luar negeri, aamiin.

Dawet Lele dari Boyolali Ini Adalah Inovasi Makanan yang Keren, Omsetnya 70 Jutaan Bos!

Pernah dengar gak kalau ada es dawet yang bahan utamanya dari daging ikan lele? Saya sendiri malah baru baca dari finance.detik.com pagi ini. Karena penasaran, jadi saya baca sampai akhir dan ternyata ini adalah salah satu inovasi dalam bisnis kuliner yang menurut saya sangat keren dan ada potensi bisa berkembang dengan pesat ke depannya.


Ibu Eka yang berasal dari Boyolali, Jawa Tengah, berhasil mengembangkan bisnis yang berbahan dasar dari ikan lele. Dia berhasil membuat cemilan yang enak dari ikan lele, diantaranya adalah es dawet ikan lele, abon lele, dendeng, kerupuk, bakso, sosis, otak-otak, kaki naga, tahu bakso, galantin, lele crunchy, lestari, dan lain sebagainya.

Bisnis yang dia bangun sejak tahun 2010 ini sudah mulai berkembang, bersama 15 rekannya yang merupakan ibu-ibu rumah tangga di desanya, Eka berhasil memberdayakan para wanita agar bisa lebih produktif dalam hidupnya.

Dari semua cemilan yang dibuat Ibu Eka bersama rekan-rekannya, ada salah satu cemilan yang menurut saya sangat unik, yaitu es dawet lele. Biasanya kita menemukan es dawet berbahan dari tepung beras, gula, dan santan, namun es dawet yang satu ini berbahan dasar dari ikan lele, emang gak amis yah?

Menurut pengakuannya, pada awal pembuatan es dawet lele ini memang sempat diragukan oleh banyak orang karena mereka merasa jijik dengan ikan lele yang amis. Menurut mereka, es dawet berbahan lele ini tidak enak, padahal belum mencobanya sama sekali.

Namun seiring berjalannya waktu, es dawet lele ini malah jadi salah satu makanan favorit yang ada di tempat usahanya. Menurut pengakuan Ibu Eka, dalam sehari dia bisa menjual es dawet lele hingga 200 porsi dengan harga Rp 5.000, 00, artinya omset dari es dawet ikan lele ini saja sudah mencapai Rp 30 jutaan dalam sebulan.

Kesuksesan es dawet ikan lele ini juga dibarengi dengan cemilan lainnya, salah satunya adalah abon yang jadi makanan favorit para pembeli. Dalam sebulan omset bisnis yang diperoleh oleh Ibu Eka bisa mencapai Rp 60-70 juta dengan keuntungan hingga 25%.

Bisnis ini sudah mulai dikenal di Indonesia, bahkan sempat ada tawaran kerja sama dari Singapura namun ditolak oleh ibu Eka karena kesulitan dalam menemukan bahan yang diminta. Semoga semakin banyak Ibu Eka lainnya dari Indonesia yang berhasil mengembangkan bisnisnya dan memberdayakan para wanita di sekitar tempat tinggalnya.

Informasi Tentang Sistem Bisnis 'Jemput Bola' yang Menjadi Andalan Pengusaha Masa Kini

Beberapa tahun yang silam saya membaca sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang kepada pengusaha sukses. Orang tersebut bertanya tentang peluang bisnis warung kelontong, namun sang pengusaha menjawab bahwa sistem bisnis itu akan segera tenggelam di masa mendatang. Saya pikir itu adalah hal yang lucu, namun ternyata itu adalah sebuah kenyataan di jaman sekarang.


Setiap pagi saya mendapati banyak sekali pedagang di depan rumah saya, mulai dari penjual sayur, penjual bumbu masak, penjual tahu-tempe, penjual ikan, penjual makanan, dan lain sebagainya yang menjajakan dagangannya langsung ke pelanggan.

Karena fenomena penjual yang mendatangi pembeli itu, ada salah satu warung yang akhirnya kalah saing dan kini mulai meredup bahkan hampir gulung tikar.

Kalau dipikir-pikir, para penjual yang langsung mendatangi pembelinya menang banyak daripada warung sayur tetangga. Pasalnya mereka menyediakan sayur segar dengan harga murah dan diantar langsung ke depan rumah, tentu saja pembeli lebih memilihnya ketimbang harus ke warung yang kadang menyediakan sayur layu dengan harga mahal dan pelayanan yang kurang memuaskan.

Sistem bisnis 'jemput bola' ini bahkan sudah digunakan oleh banyak pihak di jaman sekarang, bukan hanya pengusaha muda yang baru memulai bisnisnya namun juga para pengusaha besar yang ingin tetap menjaga pelanggannya.

Saat ini kita sering melihat karyawan minimarket yang mengirimkan orderan pembeli, bank yang membuka layanannya di pasar secara langsung, bahkan perusahaan luar negeri seperti Google saja mau mendatangi pengusaha untuk menawarkan jasa iklannya secara langsung. Keren kan?

Ternyata dengan semakin majunya jaman, banyak orang yang semakin ingin dimanjakan saat berbelanja. Mungkin hal itu pula yang membuat bisnis online menjadi sangat populer di masa kini karena tingkat pelayanannya yang sangat memanjakan pembeli.

Kalau saat ini anda memilki bisnis yang sedang maju dan tetap di tempat, ada baiknya anda mulai mencoba strategi jemput bola ini agar pelanggan anda tidak berpindah ke lain hati. Masalahnya ada banyak pesaing yang mengintai kekurangan bisnis anda dan siap menghancurkannya dengan lembut seperti nasib warung sayur di atas.

Mengintip Bisnis Perabotan Rumah Tangga Kelas Kakap yang Sukses

Kali ini saya ingin membagikan sebuah pengalaman saat berkunjung ke salah satu tempat bisnis yang membuat saya menelan ludah karena merasa cukup kaget dengan isi di dalamnya. Bisnis seperti ini terbilang masih jarang di tempat saya, namun kalau melihat kesuksesannya mungkin banyak yang ingin menjalankannya juga.


Suatu ketika saya ingin membeli karpet untuk dijual, kebetulan agen yang biasa saya ambil sedang kosong dan tidak punya stok. Akhirnya saya mencari agen yang dekat karena memang sedang butuh mumpung pesanan lagi banyak.

Setelah mencari informasi, akhirnya saya mendapatkan alamat penjual karpet yang ternyata ada di desa, tempatnya terpencil di ujung gang dan tidak terlihat dari jalan utama. Saat itu saya pikir "kalau di tempat seperti ini, siapa yang mau beli yah?".

Pertanyaan di dalam kepala semakin banyak setelah saya masuk ke dalamnya, karena saya mendapati sesuatu yang menurut saya luar biasa. Itu bukan toko, tapi lebih tepat disebut gudang penyimpanan karena di dalamnya ada banyak sekali barang khusus rumah tangga seperti sendok, gelas, ember, baju, karpet, dan lain sebaginya. Karyawan di dalamnya juga ada banyak, mereka sibuk mencatat orderan dan saya tidak dilayani karena pada sibuk sendiri (sedih).

Iseng aja masuk ke dalam sambil lihat-lihat dan ternyata nyasar ke dalam rumah pemiliknya yang merupakan seorang bapak-bapak. Melihat saya lagi bingung, si bapak menyuruh saya masuk dan malah diajak ngobrol sembari makan cemilan di dalam.

Di dalam rumah saya nanya-nanya sama si bapak dan beliau memberitahukan sistem bisnis yang cukup unik kepada saya. Jadi ternyata dia tidak punya toko lain, gudang itulah yang jadi tokonya meski tidak dipasarkan dengan baik (menurut saya).


Pemasaran yang dia gunakan adalah dengan jaringan bisnis, dia punya beberapa mobil yang membawa dagangan itu keliling (pernah lihat penjual perabotan rumah tangga keliling kan?). Selain itu, ternyata ada beberapa reseller dan dropshipper yang setia mengambil produk dari tempat itu.

Rahasia kesuksesan bisnis perabotan rumah tangga ini adalah harga grosir yang murah dan stok yang sangat banyak sehingga kalau mau belanja di sini malah bingung sendiri karena banyaknya pilihan yang ada.

Setelah lama berbincang-bincang akhirnya saya mengambil karpet yang ingin saya beli, dikasih harga murah dan kualitasnya bagus. Sepulangnya dari situ, saya malah jadi penasaran dengan bisnis perabotan rumah tangga yang ternyata keuntungannya lumayan besar.

Jadi bongkar rahasia nih, ternyata penjual perabota rumah tangga keliling mendapat keuntugan yang lumayan besar loh gan, setidaknya dia menjual barangnya dengan harga 2x lipat dari harga setorannya :P.

Ini mungkin bisa menjadi salah satu pilihan bisnis yang bisa anda jalankan, terserah mau keliling menjajakan perabotan rumah tangga seperti mang Ocad, mau dijual dengan sistem kredit, mau dijajakan dengan mobil keliling, atau bahkan membuka toko langsung juga bisa.